RSS

Category Archives: Tausiah

Penyejuk hati

Hati – Hati dengan `Salam`

Mungkin karena kesibukan, diantara kita sering menyingkat ucapan “salam” yang arti awalnya doa keselamatan justru menjadi “cacian” dan kata “jorok”. Lho bagaimana bisa?

Hidayatullah.com–Ucapan ”Assalamu’alaikum”, merupakan anjuran agama, dan sangat berpengaruh terhadap kehidupan umat beragama, dengan salam dapat menjalin persaudaraan dan kasih sayang, karena orang yang mengucapkan salam berarti mereka saling mendo’akan agar mereka mendapat keselamatan baik di dunia maupun di akhirat. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Kalian tak akan masuk surga sampai kalian beriman dan saling mencintai. Maukah aku tunjukkan satu amalan bila dilakukan akan membuat kalian saling mencintai? Yaitu, sebarkanlah salam di antara kalian.” [HR Muslim dari Abi Hurairah]

Saya seringkali menerima sms atau e-mail dari beberapa kawan dan juga beberapa ustadz yang mengawali salamnya dengan singkatan. Singkatannya pun macam-macam. Ada yang singkat seperti “Asw” atau “Aslm”. Ada yang sedikit lebih panjang seperti ; “Ass Wr Wb” atau “Aslmwrwb” . Namun yang sering saya dapatkan, adalah singkatan “Ass”. Singkatan terakhir ini paling umum dan paling sering digunakan. Bagi saya, ini adalah singkatan yang tidak enak untuk dibaca, terlebih kalau mengerti artinya.

Marilah kita simak singkatan ini. Dalam kamus linguistik yang saya punya, arti dari kata Ass yang berasal dari bahasa Inggris itu adalah sebagai berikut;

“Ass” berarti: Pertama, kb. (animal) yang artinya keledai. Kedua, orang yang bodoh. Don’t be a silly (Janganlah sebodoh itu). Dan ketiga, Vlug (pantat). Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on April 19, 2010 in Info Islam, Tausiah

 

Tags:

Jihad Dalam Keseharian

4 Maret lalu, saya mendaftar Bimbingan Terstruktur(BT) atau biasa orang menyebeutnya Tugas Akhir(TA) atau skripsi. Entri pembimbing TA tanggal 17-nya. Dan besok tanggal 27 Maret 2009 breafing TA dengan dosen pembimbing. Saya sudah mempersiapkan sebuah analisa dan judul yang cocok sebagai tema. Fuih…! Sungguh, ini adalah perjalanan panjang setelah 3 tahun kuliah yang nantinya akan ditentukan dalam -+ 1 jam sidang. Testing dilaksanakan untuk meyakinkan penguji bahwa apa yang kita buat adalah layak (make sure).

Saya menamai ini dengan jihad. Jihad? Ya jihad. Kata “jihad” atau Al-Jihad asalnya katanya al-juhd, secara bahasa bermakna kesulitan, kesukaran, dan kepayahan. Sedangkan secara syar’i bermakna “Mencurahkan segala kemampuan dalam memerangi orang-orang kafir atau musuh.” (Lihat Fathul Bari, 6/5; Nailul Authar, 7/208; Asy-Syarhul Mumti’, 8/7).

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan atau berat. Dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah.” (QS. At-Taubah : 41).

Jihad itu bukan hanya berperang di medan perang, walau kebanyakan dari kita berpikir demikian. Masing-masing bentuk jihad itu mempunyai tingkatan-tingkatan. Jihad melawan diri sendiri terbagi atas :

1. Berjihad dengan mempelajari agama yang benar.
2. Berjihad dengan mengamalkan ilmu yang dipelajari.
3. Berjihad dengan mengajarkan ilmu yang telah dipelajari kepada orang lain.
4. Berjihad dengan bersikap sabar ketika menerima ujian dan cobaan.

Jihad melawan syaitan terbagi atas :
1. Berjihad melawan godaan syetan yang berkaitan dengan keimanan.
2. Berjihad melawan godaan kehendak buruk dan syahwat.

Jihad melawan kaum munafik dan kafir terbagi atas :
1. Berjihad dengan hati.
2. Berjihad dengan lisan.
3. Berjihad dengan harta.
4. Berjihad dengan jiwa.

Islam memberikan banyak peluang ibadah dalam kehidupan kita sehari-hari. Bukan hanya sekedar shalat, puasa, zakat dan haji semata, namun ibadah mencakup seluruh aspek kehidupan manusia sebagaimana yang disyariatkan dalam Islam. Nah jihad merupakan salah satu bentuk ibadah pula, hukumnya fardhu kifayah loch. Yaitu fadhu yang menitik beratkan pada soal kemasyarakatan islam yang merupakan urat syaraf dan nadi penghubung antar sesama muslim, spesifiknya adalah ukhuwah yang berujung pada kesempurnaan dakwah islam itu sendiri.

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda, “Perumpamaan jihad di jalan Allah seperti orang yang berpuasa, melakukan qiyamullail dan membaca ayat Allah secara terus-menerus, tidak henti-hentinya shalat dan shaum sampai orang yang berjihad di jalan Allah kembali”.

Maka bersemangatlah kawan. Perjuangan baru telah menanti. Allahu Akbar!! :D

 
Leave a comment

Posted by on March 25, 2009 in Curhat, Ruhiyah, Tausiah

 

Tags:

Amanah itu..?

“Berikanlah aku jabatan dalam memelihara hasil bumi, sesungguhnya aku ini adalah orang yang amanah dan berilmu”. (QS Yusuf : 55)

Saya ingat sekali, 20 Februari 2006 yang lalu adalah tanggal dimana saya datang ke kota ini, tanggal dimana saya terikat dengan sebuah lembaga pendidikan untuk patuh dalam sebuah perjanjian di surat keputusan bermatrai. Ya, lembar itu yang mengharuskan saya patuh dengan segala aturan di dalamnya. Ilmu yang menjadi alasan utama saya menyepakatinya, ya demi ilmu. Di dalamnya ada banyak aturan, baik IPK minimum, pengabdian, larangan menikah dalam masa pendidikan, dan lainnya. Sulit memang istiqamah dengan apa yang telah kita katakan. Namun saya tidak ingin menyia-nyiakan amanah ini karena untuk menentukan siapa orang yang berhak dan sanggup menerima suatu amanah itu Allah dan Rasulullah memberikan pedoman bahwa orang itu harus berkompeten [jadi saya termasuk orang yang dipilih, he he he... jadi GR]. Rasulullah SAW bersabda: “Bila amanah disia-siakan, maka tunggulah kehancurannya”. Sahabat bertanya, “ Bagaimana bentuk penyia-nyiaannya?”. Beliau bersabda, “Bila persoalan diserahkan kepada orang yang tidak berkompeten, maka tunggulah kehancurannya” ”. (HR Bukhari dan Muslim). [Naudzubillah summa naudzubillah]. Walau mungkin tidak sebaik Rasulullah dalam memegang amanah, setidaknya saya mencoba menjaganya. Karena  Rasulullah adalah suri tauladan dalam membangun ahlak yang mulia, dan saya sedang mencoba membangunnya, :D insya Allah! Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on March 25, 2009 in Curhat, Tausiah

 

Dimana Dia Temukan Kebahagiaan?

background2Wahai saudariku seaqidah, apakah kebahagiaan itu? pada hartakah? atau pada pangkat dan keturunan?

Jawabannya pasti akan sangat beragam. Namun mari kita perhatikan kebahagiaan wanita di bawah ini, sebuah kisah yang menarik dan berkaitan dengan masalah ini.

Pernah terjadi perselisihan antara seorang istri dengan suaminya. Kemudian suaminya berkata, “Sungguh aku akan membuatmu menderita!”

Sang istri menjawab seuaminya dengan tenang dan mantap, “Kamu tidak akan mampu melakukannya!”

Sang suami bertanya dengan heran, “Mengapa demikian?” Read the rest of this entry »

 
2 Comments

Posted by on January 30, 2009 in Bedah Buku, Cerpen, Tausiah

 

Tags:

Allah -> Wali

al-ankabut2

Secara original manusia telah “berislam”. Proses kejadian manusia di
perut ibu menunjukkan proses “keislaman” (submit) ovum, spermatozoa, plasenta, rahim, dan sejenisnya kepada Allah Ta’ala (QS 22:5). Embrio dalam rahim itupun telah mengaku sebagai saksi bahwa Allah sebagai Tuhannya (QS 7:172). Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa bayi yang lahir itu dalam keadaan fitrah (suci), yaitu membawa ketauhidan/keislaman, lalu orang tuanya yang
dapat mengubah “pembawaan” itu. Al-Islam memang agama yang original, yang menjadi “blue print/trade mark” seluruh isi alam semesta termasuk manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak mau tahu (QS 30:30 ; 3:19,85).

Para Nabi dan Rasul menjadi contoh (model) bagi manusia, bagaimana “berislam” kepada Allah SWT. Mereka, sejak Nabi Adam AS sampai Nabi terakhir Muhammad SAW, menyebarkan misi yang sama yaitu kalimah tauhid “Laa ilaaha illallaah” (tiada tuhan selain Allah) (QS 2:130-140). Kalimah ini menjadiindikasi formal seorang Muslim, namun tidak sekedar diucapkan. Kalimah tauhid mengandung konsekuensi-konsekuensi, karena kalimah yang agung itu bermakna : tiada pencipta (Khaaliq), penjaga (haafidh), pengatur (mudabbir),
pelindung (walii), raja (maalik), pemberi rizqi (raazaq), tujuan hidup
(ghaayah), yang dicintai (mahbuub), dan tiada sesembahan (ma’buud) kecuali Allah semata.

Kalimah tauhid menjadikan seorang Muslim hidup merdeka, damai, dan tenang, tanpa kekhawatiran. Dia terbebaskan dari segala penjajahan, perbudakan dari sesama mahluk; dia hanya dikuasai oleh Allah SWT dan hidupnya digantungkan sepenuhnya kepada Allah SWT. Sesuai dengan statusnya sebagai Muslim yang berarti orang yang tunduk-patuh kepada Allah sehingga selamat dan menyelamatkan, damai dan mendamaikan. Seorang Muslim harus Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on January 21, 2009 in Info Islam, Tausiah

 

Rupa

allah1

Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa dan harta benda kamu, tetapi hanya memandang hati dan amal kamu”
(Riwayat Muslim daripada Abu Hurairah)

 
Leave a comment

Posted by on December 1, 2008 in Tausiah

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.