Allah -> Wali


al-ankabut2

Secara original manusia telah “berislam”. Proses kejadian manusia di
perut ibu menunjukkan proses “keislaman” (submit) ovum, spermatozoa, plasenta, rahim, dan sejenisnya kepada Allah Ta’ala (QS 22:5). Embrio dalam rahim itupun telah mengaku sebagai saksi bahwa Allah sebagai Tuhannya (QS 7:172). Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa bayi yang lahir itu dalam keadaan fitrah (suci), yaitu membawa ketauhidan/keislaman, lalu orang tuanya yang
dapat mengubah “pembawaan” itu. Al-Islam memang agama yang original, yang menjadi “blue print/trade mark” seluruh isi alam semesta termasuk manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak mau tahu (QS 30:30 ; 3:19,85).

Para Nabi dan Rasul menjadi contoh (model) bagi manusia, bagaimana “berislam” kepada Allah SWT. Mereka, sejak Nabi Adam AS sampai Nabi terakhir Muhammad SAW, menyebarkan misi yang sama yaitu kalimah tauhid “Laa ilaaha illallaah” (tiada tuhan selain Allah) (QS 2:130-140). Kalimah ini menjadiindikasi formal seorang Muslim, namun tidak sekedar diucapkan. Kalimah tauhid mengandung konsekuensi-konsekuensi, karena kalimah yang agung itu bermakna : tiada pencipta (Khaaliq), penjaga (haafidh), pengatur (mudabbir),
pelindung (walii), raja (maalik), pemberi rizqi (raazaq), tujuan hidup
(ghaayah), yang dicintai (mahbuub), dan tiada sesembahan (ma’buud) kecuali Allah semata.

Kalimah tauhid menjadikan seorang Muslim hidup merdeka, damai, dan tenang, tanpa kekhawatiran. Dia terbebaskan dari segala penjajahan, perbudakan dari sesama mahluk; dia hanya dikuasai oleh Allah SWT dan hidupnya digantungkan sepenuhnya kepada Allah SWT. Sesuai dengan statusnya sebagai Muslim yang berarti orang yang tunduk-patuh kepada Allah sehingga selamat dan menyelamatkan, damai dan mendamaikan. Seorang Muslim harus menjadi rahmat bagi alam semesta, mengikuti jejak Rasulullaah SAW. “Wamaa arsalnaaka illaa rahmatan lil’aalamiin” – dan tidaklah Aku utus kamu Muhammad keculai sebagai rahmat bagi alam semesta. Hal ini sesuai juga dengan janji seorang Muslim saat mengakhiri shalat : “Assalaamu’alaikum” (selamat untuk kamu) “Warahmatullaahi” (demikian juga rahmat Allah) “Wabarakaatuh” (demikian juga berkah-NYA) untuk kamu sekalian yang ada di
sebelah kanan maupun kiri saya; sambil tengok kanan dan kiri. Maka setelah shalat, janji itu harus dipenuhi. Ingat !! janji itu 5 kali sehari-semalam minimal. Seorang Muslim melaksanakan “Sunnatullah”, sebagaimana “Sunnatullah” telah memberi keharmonisan pada kehidupan alam semesta.

Allah sebagai pelindung. Dalam satu ayat yang realitas kebenarannya telah dibuktikan manusia, disebutkan :

“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba, kalau mereka mengetahui” (QS al-Ankabuut 29:41).

Mereka memproklamirkan “tuhan-tuhan yang baru” sebagai pelindung kehidupan yang kekuatan sebenarnya seperti sarang laba-laba – lemah dan suatu saat akan hancur. Realitas sejarah telah berbicara; “tuhan komunisme” telah tumbang, sesudah dijadikan pelindung puluhan (mungkin) ratusan juta orang selama kurang lebih setengah abad; “tuhan jabatan” tidak akan melindungi lagi setelah pensiun; “tuhan teknologi” (senjata, televisi, video, dsb) tidak jarang menimbulkan kerusakan-kerusakan. Semua “tuhan-tuhan baru”
ciptaan manusia akan binasa dan hancur, setelah Tuhan yang sebenarnya (Allah Rabbul-‘izzati) memerintahkan malaikat Isrofil untuk meniup terompet sangkakala, pertanda kehidupan dunia mulai berganti dengan Hari Akhir.

Bagi orang-orang yang beriman, pelindung kehidupannya adalah Pelindung Perkasa – Allah Azza wa Jalla. Rasulullaah SAW dan sesama orang yang beriman juga menjadi pelindungnya, untuk tetap mempertuhankan Allah semata.

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati, yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa” (QS Yunus 10:62-63)

“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk kepada Allah (QS al-Maidah 5:55). “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapakmu dan saudara-saudaramu sebagai pemimpin-pemimpinmu jika mereka
lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan …”(QS at-Taubah 9:23)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s