Jihad Dalam Keseharian


4 Maret lalu, saya mendaftar Bimbingan Terstruktur(BT) atau biasa orang menyebeutnya Tugas Akhir(TA) atau skripsi. Entri pembimbing TA tanggal 17-nya. Dan besok tanggal 27 Maret 2009 breafing TA dengan dosen pembimbing. Saya sudah mempersiapkan sebuah analisa dan judul yang cocok sebagai tema. Fuih…! Sungguh, ini adalah perjalanan panjang setelah 3 tahun kuliah yang nantinya akan ditentukan dalam -+ 1 jam sidang. Testing dilaksanakan untuk meyakinkan penguji bahwa apa yang kita buat adalah layak (make sure).

Saya menamai ini dengan jihad. Jihad? Ya jihad. Kata “jihad” atau Al-Jihad asalnya katanya al-juhd, secara bahasa bermakna kesulitan, kesukaran, dan kepayahan. Sedangkan secara syar’i bermakna “Mencurahkan segala kemampuan dalam memerangi orang-orang kafir atau musuh.” (Lihat Fathul Bari, 6/5; Nailul Authar, 7/208; Asy-Syarhul Mumti’, 8/7).

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan atau berat. Dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah.” (QS. At-Taubah : 41).

Jihad itu bukan hanya berperang di medan perang, walau kebanyakan dari kita berpikir demikian. Masing-masing bentuk jihad itu mempunyai tingkatan-tingkatan. Jihad melawan diri sendiri terbagi atas :

1. Berjihad dengan mempelajari agama yang benar.
2. Berjihad dengan mengamalkan ilmu yang dipelajari.
3. Berjihad dengan mengajarkan ilmu yang telah dipelajari kepada orang lain.
4. Berjihad dengan bersikap sabar ketika menerima ujian dan cobaan.

Jihad melawan syaitan terbagi atas :
1. Berjihad melawan godaan syetan yang berkaitan dengan keimanan.
2. Berjihad melawan godaan kehendak buruk dan syahwat.

Jihad melawan kaum munafik dan kafir terbagi atas :
1. Berjihad dengan hati.
2. Berjihad dengan lisan.
3. Berjihad dengan harta.
4. Berjihad dengan jiwa.

Islam memberikan banyak peluang ibadah dalam kehidupan kita sehari-hari. Bukan hanya sekedar shalat, puasa, zakat dan haji semata, namun ibadah mencakup seluruh aspek kehidupan manusia sebagaimana yang disyariatkan dalam Islam. Nah jihad merupakan salah satu bentuk ibadah pula, hukumnya fardhu kifayah loch. Yaitu fadhu yang menitik beratkan pada soal kemasyarakatan islam yang merupakan urat syaraf dan nadi penghubung antar sesama muslim, spesifiknya adalah ukhuwah yang berujung pada kesempurnaan dakwah islam itu sendiri.

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda, “Perumpamaan jihad di jalan Allah seperti orang yang berpuasa, melakukan qiyamullail dan membaca ayat Allah secara terus-menerus, tidak henti-hentinya shalat dan shaum sampai orang yang berjihad di jalan Allah kembali”.

Maka bersemangatlah kawan. Perjuangan baru telah menanti. Allahu Akbar!! 😀

Advertisements

Amanah itu..?


“Berikanlah aku jabatan dalam memelihara hasil bumi, sesungguhnya aku ini adalah orang yang amanah dan berilmu”. (QS Yusuf : 55)

Saya ingat sekali, 20 Februari 2006 yang lalu adalah tanggal dimana saya datang ke kota ini, tanggal dimana saya terikat dengan sebuah lembaga pendidikan untuk patuh dalam sebuah perjanjian di surat keputusan bermatrai. Ya, lembar itu yang mengharuskan saya patuh dengan segala aturan di dalamnya. Ilmu yang menjadi alasan utama saya menyepakatinya, ya demi ilmu. Di dalamnya ada banyak aturan, baik IPK minimum, pengabdian, larangan menikah dalam masa pendidikan, dan lainnya. Sulit memang istiqamah dengan apa yang telah kita katakan. Namun saya tidak ingin menyia-nyiakan amanah ini karena untuk menentukan siapa orang yang berhak dan sanggup menerima suatu amanah itu Allah dan Rasulullah memberikan pedoman bahwa orang itu harus berkompeten [jadi saya termasuk orang yang dipilih, he he he… jadi GR]. Rasulullah SAW bersabda: “Bila amanah disia-siakan, maka tunggulah kehancurannya”. Sahabat bertanya, “ Bagaimana bentuk penyia-nyiaannya?”. Beliau bersabda, “Bila persoalan diserahkan kepada orang yang tidak berkompeten, maka tunggulah kehancurannya” ”. (HR Bukhari dan Muslim). [Naudzubillah summa naudzubillah]. Walau mungkin tidak sebaik Rasulullah dalam memegang amanah, setidaknya saya mencoba menjaganya. Karena  Rasulullah adalah suri tauladan dalam membangun ahlak yang mulia, dan saya sedang mencoba membangunnya, 😀 insya Allah! Continue reading