Al- Kahfi 1-13

Bismillaahi Rohmaani Rohiim.

Alhamdulillah, saya sedang semangat sekali menghafal salah satu tsuroh al-makkiyah ini. Semoga Allah berkenan menjaga hafalan ini, aamiin. Selain ingin memahami kisah ashabul kahfi, jg karena keutamaannya yang menjadi penyebab bertambah semangat menghafal al-kahfi. Semoga apa yang saya ketahui tentang tsuroh ini, menjadi penyemangat rekan-rekan semua jg untuk menghafal,aamiin.

Ada sebuah hadist Rasululloh SAW yang  diriwayatkan oleh Imam Bukhari di dalam kitab Sohihnya:”Seorang lelaki sedang membaca Surah Al-Kahfi, di sisinya seekor kuda yang terikat dengan dua tali, maka awanpun datang menyelubungi, mendekat dan menghampiri, sehingga kuda lari terkejut, manakala dipagi hari beliau mendatangi Nabi SAW, dan menceritakan kejadian tersebut, maka bersabda Nabi : Itu adalah ketenangan yang turun disebabkan bacaan Al-Quran” ( Hadist Riwayat Bukhari, kitab Fadha`il Al-Quran, bab Fadhli Al-Kahfi, halaman : 898)

Pada hadist lain, Rosululloh bersabda: “Barang siapa yang membaca Surah Al-Kahfi pada hari Jumaat, maka Allah akan meneranginya dengan cahaya dari Jumaat yang dia baca kepada Jumaat yang berikutnya.” ( Hadis Riwayat Baihaqi)

Dari kedua hadist tersebut terbayang keutamaannya, masya Allah. 🙂 lalu bagaimana dengan hadist berikut, semoga semakin semangat menghafal,aamiin.

Rosululloh bersabda:”Barangsiapa yang melafadzkan 1-10 ayat dari surah Al-Kahfi akan di pelihara dan di selamatkannya dari Fitnah Dajjal”. (Hadist riwayat Muslim, Ahmad dan An-Nasaie)

Fitnah disini   mengacu pada  bencana yakni bencana yang menimpa umat Islam. Fitnah yang dimaksud adalah “Kekeliruan”, Kekeliruan antara yang benar dan yang batil. Dan  kekeliruan inilah yang menjadikan umat Islam semakin lemah dan lalai. (innalillah, astaghfirulloh). Semoga Allah berkehendak menjadikan teguh hati-hati kita untuk tetap istiqomah dalam Islam,aamiin.

Berikut tafsir yang saya maksud, Semoga Allah membimbing saya,aamiin:

  1. QS.18 ayat 10
    “Ingatlah (tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua) Lafal Al-Fityah adalah bentuk jamak dari lafal Fataa, ertinya pemuda; mereka khawatir iman mereka akan dipengaruhi oleh kaumnya yang kafir (lalu mereka berdoa, “Wahai Rabb kami! Berikanlah kepada kami dari sisi-Mu) dari hadirat-Mu (rahmat, dan sempurnakanlah) perbaikilah (bagi kami bimbingan yang lurus dalam urusan kami ini.)” yakni petunjuk yang lurus.”
  2. QS.18 ayat 11
    “Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu.”Allah menerima doa para pemuda itu(doa dari ayat ke 10), Ia menutup penglihatan dan pendengaran mereka, hingga mereka tidur nyenyak tidak ada suara yang akan membangunkan mereka dari tidur mereka yang nyenyak, dalam gua berbilang tahun lamanya. Sangatlah besar rahmat Tuhan yang diberikan kepada mereka. Tidaklah mudah bagi seseorang dapat tidur, di waktu jiwanya sedang mengalami  kegelisahan dan ketakutan. Atas izin Allah, dalam tidur itulah mereka mendapatkan ketenteraman dan kelapangan lahir dan batin.
    “Menutup telinga” dalam ayat ini lebih lanjutnya adalah bahwa telinga itu  yang menjadi sebab bangunnya seseorang dari tidur. Seseorang baru dapat dikatakan tidur, bilamana telinganya tidak mendengar sesuatu lagi. Rasululullah SAW  mengatakan bahawa bagi seseorang yang lama tidurnya dengan mempergunakan kata “telinga”.
  3. QS.18 ayat 12
    “Kemudian Kami bangkitkan mereka (dari tidurnya) untuk Kami menguji siapakah dari dua golongan di antara mereka yang lebih tepat kiraannya, tentang lamanya mereka hidup (dalam gua itu)”.Setewlah Allah SWT menerangkan bahawa setelah mereka tidur dalam gua itu, Allah SWT membangunkan mereka. Pendengaran mereka dipulihkan kembali oleh-Nya. Sewaktu seseorang penggembala kambing memecahkan dinding batu yang menutup mulut gua itu, maka suara runtuhan itu terdengar oleh mereka, dan terbangunlah mereka setelah tidur berabad-abad lamanya. Dan dengan demikian, Allah SWT mengetahui mana di antara dua golongan yang berselisih itu dapat menghitung dengan tepat berapa lamanya mereka tinggal dalam gua itu.
    Tetapi akhirnya mereka menyadari bahawa mereka tidaklah mengetahui secara pasti berapa lama mereka tinggal dalam gua itu, lalu mereka mengakui bahawa Tuhanlah yang memelihara tubuh mereka sehingga tidak hancur, dan mereka bertambah yakin akan kesempurnaan kekuasaan Tuhan serta ilmu-Nya. Oleh kerana itu, dengan peristiwa yang mereka alami itu mereka dapat merenungkan tentang perkara hari kiamat.
    Bagi orang-orang yang beriman pada zaman itu, peristiwa itu menambah teguhnya iman mereka, sedang terhadap orang kafir peristiwa itu menjadi bukti nyata bagi kekuasaan Tuhan. Bermacam-macam pendapat ahli tafsir dalam menjelaskan maksud dari kata “dua golongan” dalam ayat ini. Ada yang mengatakan bahawa yang dimaksud dengan dua golongan itu ialah golongan pertama adalah para pemuda penghuni gua itu, dan golongan kedua adalah penduduk kota yang mengetahui sejarah menghilangnya pemuda-pemuda itu.
    Ada yang mengatakan kedua golongan yang berselisih pendapat itu ialah para pemuda itu dengan raja-raja yang memerintah silih berganti di negeri Afasus itu. Banyak lagi pendapat-pendapat yang lain. Tetapi pendapat lain yang mendekati kebenaran ialah mengatakan bahawa kedua golongan itu adalah pemuda-pemuda penghuni gua itu sendiri. Setelah mereka bangun dan tidur, mereka saling bertanya satu sama lain.
    Sebagian mengatakan: “Kita tinggal dalam gua ini sehari atau setengah hari”. Sebagian yang lain mengatakan Tuhanmu lebih mengetahui berapa lamanya kamu tinggal dalam gua ini”.
  4. QS.18 ayat 13
    “Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk;”Dalam ayat ini Allah SWT mulai menguraikan kisah tentang Ashabul Kahfi, yang pada ayat-ayat sebelumnya baru disampaikan secara umumnya. Allah SWT mengatakan kepada Rasululullah SAW bahwa kisah yang disampaikan ini mengandung kebenaran. Maksudnya diceritakan menurut kejadian, tidak seperti yang dikenal oleh bangsa Arab. Bangsa Arab telah mengenal kisah pemuda-pemuda penghuni gua ini, akan tetapi dalam bentuk yang salah.

Umayyah Ibnu Abu Salt seorang penyair Arab zaman permulaan Islam dari Bani Umayyah meninggal dunia tahun 9 H, pernah dalam sebuah syairnya menyebut gua ini, yang menunjukkan bahwa bangsa Arab telah mengenal cerita ini, syairnya berbunyi:  “Tidak ada di situ kecuali Ar Raqim (batu tertulis) yang berada di dekatnya serta anjingnya. Sedang kaum itu tidur dalam gua. “

Kemudian Allah SWT menjelaskan cerita itu bahawa sesungguhnya mereka adalah anak-anak yang masih remaja yang beriman kepada Tuhan mereka Yang Maha Kuasa dengan penuh keyakinan. Meskipun masyarakat mereka menganut agama syirik, tetapi mereka dapat mempertahankan keimanan mereka dari pengaruh kemusyrikan itu. Memang para pemuda pada umumnya mempunyai sifat mudah menerima kebenaran, mereka lebih cepat menerima petunjuk ke jalan yang benar dibandingkan dengan orang-orang tua yang sudah tenggelam dalam ajaran-ajaran yang sesat.

Oleh kerana itu dalam sejarah, terutama sejarah perkembangan Islam, para pemudalah yang lebih banyak pertama kali menerima ajaran Allah dan Rasul-Nya. Adapun orang tua, seperti tokoh-tokoh Quraisy terus menerus mempertahankan ajaran agama yang syirik, sedikit sekali dari orang tua itu yang menerima ajaran Islam.

Benarlah kata ahli hikmah: “Pokok inti kepemudaan itu adalah keimanan. Dalam masa muda itu, seseorang mulai menerima dan menemukan keimanan dan meneguhkan ke dalam pribadinya.”

Berkata Al Junaid seorang Sufi: “Masa muda remaja itu, masa untuk memberikan darma bakti, tahan derita, pantang mengeluh. Semakin banyak pengorbanan dan pengabdian mereka terhadap Tuhan, makin tambah kuat iman dan takwa mereka.”
Firman Allah: “Dan orang-orang yang mendapat petunjuk Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (batasan) ketakwaannya.” (Q.S.Muhammad : 17)

Sahabat yang dimuliakan,Surah Al-Kahfi adalah surah yang menceritakan kisah beberapa orang pemuda yang beriman kepada Allah SWT. Mereka melarikan diri daripada raja yang zalim dan syirik kepada Allah SWT. Mereka sanggup menyembunyikan diri di dalam gua semata-mata untuk menjaga iman dan akidah mereka supaya tidak di sesatkan oleh raja dan para pengikutnya di zaman itu. Mereka tinggal di dalam gua selama 309 tahun qomariah.

Ibnu Murdawaih mengetengahkan  hadis melalui sahabat Ibnu Abbas r.a. yang menceritakan bahawa ketika ayat itu turun, yaitu firman-Nya, “Dan mereka tinggal dalam gua mereka selama tiga ratus.” (Surah Al Kahfi ayat 25) para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah! Tiga ratus apakah, tahun atau bulan?” Allah pun menurunkan kelanjutannya, yaitu firman-Nya, “(Tiga ratus) tahun dan ditambah sembilan tahun.” (Surah Al Kahfi ayat 25).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s